Komunitas Perbankan Syariah

Industri jasa keuangan syariah global ternyata berkembang cukup pesat, bahkan di tengah ketidakpastian pemulihan pasar keuangan dunia saat ini. Bodie et al. (2005) menjelaskan bahwa Capital Asset Pricing Model (CAPM) merupakan hasil utama dari ekonomi keuangan modern.Capital Asset Pricing Model (CAPM) memberikan prediksi yang tepat antara hubungan risiko sebuah aset dan tingkat harapan pengembalian (expected return). Akan tetapi, alasan nasabah dalam memilih produk bank berbeda-beda. "Industri perbankan syariah tumbuh luar biasa, rata-rata 40,2 persen dalam lima tahun terakhir jauh lebih tinggi dari bank konvensional yang hanya sekitar 16,7 persen," katanya.
Pemerintah telah mengalokasikan Rp 6,94 triliun untuk proyek infrastruktur melalui penerbitan Sukuk Negara. Kelas menengah yang merupakan kelompok penduduk yang memiliki kekuatan expenditure” per hari antara 2 - 20 dollar AS ini berpotensi menjadi sumber pembiayaan pembangunan melalui pasar keuangan seiring peningkatan pendapatan kelas menengah tersebut. Terkait dengan Inovasi produk, bank-bank syariah dapat memanfaatkan paket kebijakan yang baru saja dikeluarkan oleh OJK.
Dia memperkirakan pertumbuhan kredit 2018 bisa di atas 10 persen. IKNB Syariah yang berkontribusi besar meliputi Lembaga Keuangan Mikro (LKM) sebesar 23,70%, lembaga jasa keuangan khusus (Pegadaian, LPEI, Penjaminan) sebesar 9,99%, lembaga pembiayaan sebesar 7,30%, dan asuransi sebesar 4,97%. Direktur Keuangan Bank DKI, Sigit Prastowo menjelaskan, target tersebut sesuai dengan potensi pertumbuhan kredit tahun ini yang diperkirakan akan tumbuh di kisaran 12%.
PT RIFANFINANCINDO - Rifan Financindo Berjangka Incar Kenaikan Nasabah 53% di Jawa Tengah
Karena itu perbankan syariah harus meriset dan mengkaji terlebih dahulu potensi pasar dari suatu bisnis. Pertumbuhan pembiayaan tersebut akan berkontribusi terhadap peningkatan aset UUS BTN menjadi sekitar Rp 30 triliun atau naik 25 persen (yoy). Poin tersebut antara lain regulasi, bisnis syariah yang masihterbilang baru, karakter konsumen masih lemah, sumber daya manusia yang minim, produksyariah yang ada masih berupa produk padanan bank konvensional, dan bisnis syariah masihdianggap opsi alternatif pengembangan bisnis dari bank konvensional.Tapi melihat dari minat masyarakat.
Masih Ada Sentimen Negatif, IHSG Bisa Terkoreksi
Sehingga sangat mungkin, hal inilah yang kemudian menyebabkan turunnya Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan syariah. , JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengharapkan porsi aset industri keuangan non bank (IKNB) terhadap seluruh aset industri keuangan bisa mencapai angka 26% pada tahun ini. "Namun, faktor pulihnya perekonomian dunia secara global merupakan satu-satunya hal yang paling mempengaruhi pertumbuhan industri perbankan syariah," jelasnya.
Dia menargetkan nilai DPK bisa mencapai Rp1 triliun hingga semester satu tahun ini. '¢ Keberlangsungan. Target yang telah dicapai dengan pertumbuhan setiap tahunnya harus dijaga keberlangsungannya agar perusahaan dapat bertahan dalam kurun waktu yang lama. Berdasarkan fakta-fakta tersebut dapat dikataan bahwa industri perbankan syariah menunjukkan ketangguhannya sebagai salah satu pilar penyokong stabilitas sistem keuangan nasional.
IHSG Siap Rebound Dengan Target 6555
Analis PT Indosurya Sekuritas William Surya Wijaya memperkirakan laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini akan bergerak pada kisaran level 6.502-6.713. ”Rasio modal yang jauh di atas batas minimum yang ditetapkan basel, demikian juga dengan rasio likuiditas yang begitu tinggi, mengindikasikan penyaluran kredit perbankan yang tidak maksimal,” ujarnya.
Lembaga keunagan Islam berbentuk bank syariah perlu dikembangkan bisnisnya. Agus mencontohkan dengan kondisi pasar Surat Berharga Syariah Negara Ritel (Sukuk) global yang pertumbuhannya melambat setelah mencapai rekor pada 2012 dan 2013. Jakarta infobank - Ditengah tahun politik 2018, permintaan kredit perbankan diprediksi masih berjalan lambat. Hal kedua, yaitu berhasilnya proses konversi unit usaha syariah Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Barat (NTB), sehingga di akhir 2017 akan memberikan kontribusi aset Rp 8 triliun.
Jakarta - PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BII) mengumumkan laba bersih setelah pajak dan kepentingan non-pengendali (PATAMI) sebesar Rp1,55 triliun untuk tahun keuangan yang berakhir 31 Desember 2013, naik 28% dibandingkan Rp1,2 triliun per 31 Desember 2012. Dengan demikian pertumbuhan dana pihak ketiga dan pembiayaan masih berkisar di angka tersebut. Di samping itu, segmen konsumer BNI juga didorong oleh kredit pemilikan rumah (KPR) yang mencapai Rp 37,07 triliun pada akhir Desember 2017.
Dengan lambatnya pengembangan instrumen keuangan bank syariah tidak akan mampu mendapatkan dana dari pasar secara cepat. Kebijakan ini sangat strategis dalam mendongkrak pertumbuhan asset perbankan syariah, namun bank syariah harus lebih agressif dalam menghimpun dana masyarakat (DPK), karena selama ini bank syariah juga kekurangan likuiditas, hal itu terlihat dari FDR bank syariah yang berada di atas 100 persen.BPRS-Artha-Mas-Abadi-Gelar-Edukasi-Perba