Kamu Terlambat Melaksanakan Aqiqah Bagi Anak, Cek Penjelasan Ini

Pengkaji hadist yang tergabung dalam regu redaksi KluargaCinta.com, menjawab pertanyaan masyarakat online berhubungan bayi atau buah hati yang telat diaqiqah, cocok hadist riwayat Ibnu Majah: Setiap si kecil tergadaikan pada aqiqahnya?

Hadits shahih yang dimaksud merupakan hadits ini: "Setiap buah hati tergadaikan pada aqiqahnya. Disembelihkan untuknya pada hari ketujuh kelahirannya, dicukur rambutnya dan dikasih nama" (HR. Ibnu Majah; shahih)

Untuk bisa memahami makna hadits tersebut secara ideal, mari kita simak penjelasan para ulama. Baca berjenis-jenis informasi mengenai catering aqiqah depok disini.

Imam Ahmad menjelaskan, hadits ini terkait dengan syafaat. "Ini terkait dengan keadaan sulit syafa’at," ujar beliau seperti dikutip Al Khathabi. "Maksudnya, kalau bapak serta ibu tidak melaksanakan aqiqah buah hatinya, kemudian si buah hati meninggal dunia waktu kecil, dia tidak bisa memberikan syafaat terhadap kedua orang tuanya."

Atha’ Al Khurasani beranggapan serupa. Dikala Yahya bin Hamzah bertanya perihal maksud "setiap buah hati tergadaikan pada aqiqahnya" beliau menjawab: "Orang tua tidak menerima syafaat dari anaknya"

Mulla Ali Al Qari memiliki pendapat berbeda. Menurutnya "setiap si kecil tergadaikan pada akikahnya" berhubungan dengan keselamatan anak itu sendiri. "Keselamatan buah hati tersebut dari musibah tergantung pada akikahnya," kata beliau. Melainkan, beliau juga mengamini anggapan bahwa hadits ini berkaitan dengan syafaat. Apabila orang tua tak mengaqiqahi buah hatinya dan si kecil itu meninggal di waktu kecil, maka si kecil tersebut tak dapat memberikan syafaat terhadap kedua ayah dan bundanya.

Dalam kitab Syarhus Sunnah disimpulkan, "Para ulama banyak membahas problem ini. Penjelasan terbaik merupakan anggapan Imam Ahmad bin Hanbal bahwa jika seorang anak meninggal dunia serta belum pernah diaqiqahi, si buah hati tersebut tidak bisa memberikan syafaat kepada kedua orang tuanya."

Ath Thayyibi menambahkan, "Dapat dipastikan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal tidak beranggapan demikian selain setelah mendapatkannya dari para sahabat dan tabi’in."

Jadi, bukan si kecilnya yang belum merdeka, tapi karena akikah yakni keharusan orang tua, karenanya orang tua tidak mendapatkan kemanfaatan yang total (berupa syafaat seandainya buah hati itu meninggal di waktu kecil) kecuali dia menebusnya dengan aqiqah.

Berdasarkan jumhur ulama tata tertib akikah ini merupakan sunnah muakkadah (sunnah yang benar-benar direkomendasikan).